Minggu, 26 Januari 2020
Suara Hati
Edukasi- Hidup itu sangat likuid, bentuknya susah untuk diprediksi. Apa yang menjadi rencana kita kadang buyar di tengah jalan. Lagipula siapa sih yang mampu memahat air?
Apalagi jika berbicara tentang harapan. Jika sebuah rencana gagal, kita hanya kesal. Namun Jika harapan tidak terpenuhi, maka sakitlah hati. Bisa saja sampai depresi.
Di dunia ini, tidak semua hal harus kita pikirkan. Kepala manusia bagai gelas yg selalu berganti airnya. Jika berlebih maka ia luber.
Namun, yang membedakan dengan gelas, ia hanya bisa diisi dengan satu jenis air. Jika ingin diisi jus jeruk, maka air yang mengisi sebelumnya harus ditumpahkan terlebih dahulu. Sehebat-hebatnya kepala tetap punya batasan.
Berhentilah menyiksa kepala dan hati dengan memikirkan apa yang seharusnya kurang bijak untuk terlalu lama dipikirkan. Jika harapan 'tidak sengaja' terpaut pada seseorang atau tersemat pada capaian duniawi, maka janganlah ia taruh pada harapan karena ia bersayam pada hati, nanti sakit jika tidak terealisasi.
Berhenti berpikir tentangnya dan tampung ia pada wadah yang lebih mulia dari kepala, yaitu doa.
Jika kepala malah memusingkan, maka doa memiliki kemungkinan untuk dikabulkan. :)
Sederhanannya hidup ini adalah tentang perbaikan. Kita lapar maka perbaiki dengan makan. Kita ngantuk maka perbaiki dengan tidur. Kita kebelet, kita perbaiki dengan melesat secepat kilat ke toilet terdekat.
Dan mimpi, sederhananya adalah serangkaian masalah yg harus diperbaiki secara bertahap, satu persatu. Maka mulailah perbaiki dari apa yg bisa kamu gapai, lalu ke bagian selanjutnya dan seterusnya.
Lelah? Pasti, Terjatuh? Niscaya. Tidak apa, itu juga salah satu masalah yang harus kamu perbaiki. Terus pegang kesabaran hingga akhirnya pincak mimpi satu2nya yg harus kamu perbaiki.
Pada akhirnya mimpi hanyalah salah satu rangkaian dari cita-cita yg lebih besar. Lalu cita2 apa yg lebih besar daripada menggapai surgaNya?
Mari perbaiki diri, perbaiki dunia .“Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat"
"Admin juga buka layanan laporan publik, silakan hubungi kita, "
Kamis, 23 Januari 2020
Sifat Manusia
Sifat Manusia - Enak ya kerja bareng dengan seorang pekerja wartawan atau jurnalis, ketika dikasih tugas dia amanah. Namun ketika salah malah dimaafkan, ketika tidak bisa malah diajarkan, ditambah lagi asyik gimana jadi pribadi lebih baik di dunia juga di akhirat.
Jadi tidak ada kekhawatiran bakal dibenci, dicela, dimarahi, dimaki, atau direndahi. Ketika berinteraksi dengan dia, maka amanlah hati dan jiwanya.
Anggap saja, paragraf I dan II itu. kontradiksii di paragraf ke-III ini.. Aku pun tertawa.
Kekecewaan pun aku rasakan, setelah sekian lama. Walaupun berulang-ulang kali. Namun kali ini luar biasa kecewanya.
Tampaknya jargon "jadilah diri sendiri" lebih baik direvisi. Karena heterogenitas manusia, menganut karakter tunggal malah menjerumuskam pada prilaku egois. Akhirnya memang kita harus berbuat bijak menyesuaikan sikap kepada siapa lawan bicara kita.
Bukannya munafik, karena menyesuaikan sikap terhadap seseorang bukanlah berkhianat.
Maka jangan jadikan standarisasi diri sebagai acuan kualitas sifat seseorang. Apalagi yang dinilai hanya terbatas pada yang tampak saat itu. Jangan heran kalau tiba-tiba dia berubah sifatnya ketika berhadapan dengan kamu.
Sifat ganda itu nyata, siapa yang tahu dibalik sesosok yang ceria dan suka bercanda, setiap malamnya ia habiskan untuk berkhalwat kepadaNya?
Untuk diri sendiri bijaklah pada konteks, bijaklah pada diri sendiri, sifat apa yang pantas aku terima? dan sifat apa yang semestinya aku tampilkan pada dia?
Selama bertahan pada koridorNya, ia berada pada kualitas yang baik.
Manusia memang suka meninggikan dirinya bukan? Terkadang ia menilai sesuatu baik dan tidak baik, tapi bagi siapa? Dirinya?
Dari pada itu, siapa sih yang lebih pantas menilai? Toh kita hanya diwajibkan berinteraksi.
Pernahkah Terheran
Manusia - Seterang apapun, jangan terlalu tersilaukan ketokohan seseorang. Selama ia manusia, ada kalanya ia jatuh dan padam.
Sekecil apapun, jangan meremehkan percik cahaya seseorang. Pelita selalu berawal dari percikan kecil hingga bisa terang-benderang.
Kita selalu punya cahaya untuk dibagi agar saling menerangi. Karena dalam interaksi antar manusia, ada fungsi "saling" dalam menasihati.
"kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan saling menasihati supaya menaati kebenaran, serta saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr:3)
Rabu, 22 Januari 2020
Baik dan Buruknya Manusia Dalam Kehidupan
Catatan Bengkulu - Lagi-lagi kita dihadapkan oleh keinginan untuk menjadi yang terbaik, dipandang, dipuji, diberi tepuk tangan dan diakui kehebatannya. Padahal apa yang saat ini milik kita, merupakan pinjaman dari yg Maha Menguasa.Termasuk kemampuan yang telah kita asah dengan susah payah.
Walaupun ini merupakan salah satu pisau dari pisau-pisau lainnya, bisa baik dan buruk. Tetap saja perlu terus menerus diingatkan bukan hasil akhir kehebatan yang kita tuju, namun prosesnya.
Akhirnya kita dituntut untuk mengintropeksi setiap proses menuju ke sana, terutama niat bagaimana kita mulai beranjak berusaha.
Menjadi yang terbaik bukan berarti memburukan yang lain. Menjadi nomor satu tidak mesti melihat di mana posisi diri kita berada saat ini. Menjadi hebat adalah dampak dari sebuah niatan yang tulus untuk belajar, menebar manfaat, dan semata beribadah kepada-Nya.
Mari terus merendahkan hati dan belajar tanpa memandang siapa yg memberikan.
Semoga kita selalu dalam bimbingan-Nya dalam meluruskan niat.
Kamis, 16 Januari 2020
Kebahagiaan dan Pengakuan Manusia
Catatan Bengkulu - Mengapa kita bersedih ketika apa yang menjadi hasrat kita tidak terpenuhi. Mengapa pula kita iri pada seseorang yang lebih dipuji dibanding diri kita sendiri. Mengapa selalu itu yang terjadi, kita selalu mengharapkan reaksi, balasan, dan perhatian dari manusia. Memang sebuah penerimaan sosial dalam bentuk kekuasaan atau ketenaraan bagian dari nafsu alami manusia. Tapi jika kita apatis terhadap esensi dibalik itu semua, depresilah yang kita temui ketika apa yang kita inginkan tidak terpenuhi.
Berbuat sesuatu, berkerja, membantu, berkarya, aktif dimana-mana, bila hanya karena mengaharap balasan dari manusia, maka kekecewaanlah yang akan kita dapati. Meskipun harapan itu hanya berbentuk apresiasi. Mungkin beberapa orang terlihat begitu bergairah ketika melihat suatu jabatan. Mereka berkata ingin membawa kebaikan, tapi terselip diantara hatinya rasa bahagia karena pengakuan dari banyak masa akan menempel pada dirinya. Memangnya setelah balasan dari manusia itu apa? puas? Iya, lalu rasa itu tiada. Jika tidak ada yang menghargai, apalagi yang tersisa selain kecewa.
Bahagialah jika mereka adalah orang-orang yang pandai menjaga hati. Tapi betapa malangnya mereka-mereka yang menatapnya penuh iri. Bermimpi akan sesuatu yang menipu nan tak abadi.
Salam sejahtera untuk kita semua. 🙂
Selasa, 07 Januari 2020
Sejatinya Manusia Diciptakan Bebas
ㅤㅤ
Dalam sebuah masyarakat di mana terdapat orang-orang yang harus selalu bekerja dan tidak mendapatkan apa pun, sementara terdapat kelompok lain yang tidak pernah bekerja namun menikmati segala keuntungan, jika solidaritas dari pihak-pihak yang saling berkepentingan tidak pernah hadir; maka keharmonisan sosial hanyalah sebuah mitos.
ㅤㅤ
Perusakan dan kekerasan! Bagaimana orang biasa mengetahui bahwa unsur yang paling kejam dalam masyarakat adalah ketidakpedulian; yang kekuatan merusaknya adalah hal yang paling dilawan oleh Anarkisme? Seseorang pernah mengatakan dibutuhkan sedikit usaha mental untuk mengutuk daripada untuk berpikir. Kelebaman mental yang meluas dan sangat umum di masyarakat membuktikan kebenaran hal ini. Alih-alih menggali makna dasar setiap gagasan, alih-alih memeriksa asal usul dan maknanya, kebanyakan orang akan lebih memilih untuk mengutuknya, atau bergantung pada definisi dangkal dan prasangka yang tak penting.
ㅤㅤ
Tuhan tidak berurusan dengan kebebasan. Kalaupun Tuhan ada, maka Tuhan tidak berpengaruh terhadap kebebasan. Kalau Tuhan ada, maka kebebasan menjadi deterministik. Kebebasan kehilangan keautentikannya. Manusia sendirilah yang menentukan kebebasannya.
Referensi : Buku Marx dalam kehidupan
Langganan:
Komentar (Atom)
Kpd Yth Bpk Menteri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim (@nadiemmakarim)
Mencatat Sejarah, - Pesan teruntuk Bpk Menteri Pendidikan, kami pun tidak tahu harus mulai dari mana, semoga ini sampai di tangan anda dan ...
-
Berita Cahaya - Kabut asap mulai menyelimuti Kabupaten Kaur dari Kecamatan Semidang Gumay sampai ke Kaur Selatan selasa 07-40 WIB (24/0...
-
Seluma adalah salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Bengkulu. Kabupaten seluma memiliki pesona alam yang indah, salah satu pesona ...
-
Biola Tua  Foto H. Zakwan Zanim Catatan Bengkulu - Bengkulu Selatan merupakan salah satu Kabupaten yang...





